Blog
Temukan Wisata Terbaik Anda
Tujuan:
Kategori:
Sentuhan Magis Dan Kentalnya Kebudayaan Yang Tak Terelakkan Dari Desa Adat Ratenggaro
Tags : #desaadat #ratenggaro #ntt

Nama Sumba sudah cukup terkenal di teling para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Kepopuleran Sumba ini disebabkan karena adanya banyak objek wisata alam yang sungguh mempesona. Namun, dibalik keistimewaan Sumba karena pesona alamnya, Sumba masih menyimpan potensi wisata melalui kebudayaan dan adat istiadatnya. Telah kalian ketahui, Pasola merupakan simbol dari kebudayaan yang ada di Sumba. Pasola ini merupakan sebuah tradisi yang menggabungkan antara keahlian menunggang kuda dan melemparkan lembing kayu ke lawan. Selain tradisi Pasola, Sumba juga terkenal dengan budaya dan adat istiadatnya melalui sebuah tempat yang bernama Desa Adat Ratenggaro. Daya tarik utama dari desa adat ini terletak pada rumah adatnya atau biasa disebut dengan uma kaleda yang memiliki menara dengan tingginya bisa mencapai 15 meter.

Hasil gambar untuk desa adat ratenggaro

(gambar: https://www.hipwee.com/)

Hasil gambar untuk desa adat ratenggaro

(gambar: https://www.pegipegi.com/)

Letak dari Desa Adat Ratenggaro ini berada di Desa Umbu Ngedo, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Untuk mencapai lokasi desa adat ini, kalian harus terlebih dahulu mencapai Tambolaka agar memudahkan perjalanan selanjutnya menuju Desa Adat Ratenggaro. Apabila kalian dari luar pulau, kalian bisa memilih maskapai penerbangan yang melayani rute ke Bandara Tambolaka. Dari Bandara Tambolaka ini, kalian bisa mengakses Desa Adat Ratenggaro dengan menggunakan kendaraan pribadi atau pun umum. Jarak yang kalian tempuh dari bandara menuju Desa Adat Ratenggaro ini kurang lebih mencapai 46 km. Lalu, bagi kalian yang ingin menggunakan transportasi umum, kalian bisa naik bemo atau angkutan umum lainnya dengan biayar kurang lebih Rp. 10.00. Sayangnya, angkutan umum ini hanya mengantarkan kalian di pusat Kecamatan Bondo Kodi. Dari sini, kalian tinggal melanjutkan perjalanan menggunakan ojek dengan membayar ongkos sekitar Rp. 20.000.

Hasil gambar untuk menginap di rumah adat ratenggaro

(gambar: https://sultra.antaranews.com/)

Kalian dapat mengunjungi Desa Adat Rateggaro ini kapan pun atau dalam artian lain objek wisata ini buka selama 24 jam setiap harinya. Untuk mendapatkan pengalaman yang lebih seru, disarankan untuk mengunjungi desa ini pada saat hari belum gelap. Selain dapat merasakan perjalanan yang seru, kalian bisa berinteraksi langsung dengan warga dan melakukan hal-hal seru yang tak sebelumnya tak pernah dilakukan setibanya di Desa Adet Ratenggaro. Lalu, kegiatan kalian bisa dilanjutkan pada malam harinya dengan menginap di rumah warga desa ini. Untuk mengunjungi objek wisata ini, kalian juga tidak dikenakan biaya tiket masuknya.

Hasil gambar untuk dalam rumah adat ratenggaro

(gambar: https://www.tripadvisor.co.id/)

Yang menarik dari Desa Adat Rateggaro adalah struktur bangunan rumah adatnya. Rumah adat yang ada di sini memiliki bentuk berupa rumah panggung yang terdiri dari 4 tingkat yang berbeda. Keempat tingkat ini memiliki fungsi yang berbeda-beda. Tingkat pertama merupakan tempat tinggal dari hewan peliharaan. Pemilik rumah tinggal di tingkat kedua. Tingkat ketiga berisikan hasil panen. Dan yang paling akhir yaitu tingkat empat, berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda keramat. Kemudian, atap yang digunakan oleh rumah adat ini berbahan dasarkan dari daun jerami. Tinggi dan rendahnya atap rumah pun disesuaikan dengan status sosial si penghuninya. Jadi semakin tinggi atap rumah adat, maka semakin tinggi juga derajat sosial orang yang menghuni rumah adat tersebut. Sama halnya dengan rumah adat di Flores atau Toraja, digantunglah rahang babi atau pun tanduk kerbau sebgai simbol bahwa rumah pemilik rumah tersebut pernah melaksanakan upacara adat.

Hasil gambar untuk Uma Katoda Kataku

(gambar: https://gramho.com/)

Keunikan dari Desa Adat Ratenggaro tak berhenti di situ. Di sini, terdapat empat buah rumah yang memiliki nilai sakral tinggi di mata penduduk desa adat. Keempat rumah ini memiliki nama yang menyimbolkan sesuatu. Ada Uma Katoda Kataku dan Uma Kalama sebagai simbol dari ibu. Lalu Uma Katoda Kuri dan Uma Katoda Amahu yang menyimbolkan saudara ayah dan ibu. Selain itu, posisi keempat rumah ini juga mewakili dari empat mata angin yaitu utara, timur, barat, dan selatan. Keempat rumah ini juga dilengkapi dengan cincin atau gelang paada setiap tiang utamanya.  

Hasil gambar untuk kuburan batu desa adat ratenggaro

(gambar: https://www.antaranews.com/)

Suasana magis dan mistis begitu terasa menyelinapi di Desa Adat Rotenggaro ini karena adanya kuburan batu. Kuburan batu ini merupakan kuburan yang menampung jenazah para korban perang antara orang Garo dan penghuni Desa Adat Rotenggaro ini. Tercatat, ada 304 buah kuburan batu dimana 3 diantaranya memiliki bentuk cukup unik dan letaknya berada di pinggir laut. Kesan magis pada kuburan batu ini semakin bertambah dengan adanya lukisan pahatan pada batu tersebut. Walaupun terasa mengerikan, yang kalian rasakan ketika berada disini adalah tidak bisa berhenti kagum akan batuan yang usianya sudah sangat tua namun masih tertanam pada tanah dengan kokohnya.

Hasil gambar untuk kadapet watara

(gambar: http://intuit.hol.es/)

Asyiknya jika berkunjung ke Desa Adat Roteggaro adalah kalian bisa menginap di rumah penduduk sehingga kalian bisa mengetahui kebiasaan sehari-hari mereka dan berbaur dengan mereka. Pada saat menginap ini, kalian tentunya akan disuguhkan dengan berbagai macam olahan kuliner yang sangat erat kaitannya dengan Sumba. Misalnya saja kadapet watara. Kadapet watara ini merupakan kue kering yang berbahan dasarkan dari jagung, pisang, dan kacang tanah. Bahan-bahan tersebut dihancurkan dan dicampur hingga menjadi sebuah adonan. Lalu dibentuk lah kue secara bulat. Dan yang terakhir dibungkus dengan menggunakan daun jagung kering.

*Harga yang tertera pada artikel dapat berubah setiap saat.